Jumat, 27 September 2013

Budaya untuk Perubahan



Indonesia terkenal akan budaya yang berlimpah. Di setiap daerah di segala penjuru di negara ini kaya akan kebudayaan. Kebudayaan tanah air kita ini merupakan harta yang tak ternilai. Dari segi bahasa saja Indonesia sudah mencapai 546 bahasa dan logat yang berbeda. Namun kita disatukan dalam satu bahasa yaitu bahasa Indonesia.
                Pemuda penggagas bangsa ini sudah mengetahui bahwa kita memiliki sifat dan karakter yang saling berbeda satu sama lain dalam bangsa ini. Kita memiliki perbedaan tapi tetap bisa disatukan. Tak ada hal lain selain jiwa patriot dan kesatria dari para pemuda yang merindukan bangsa kita bersatu. Mereka memiliki jiwa yang kuat dan pantang menyerah.
                Kita sebagai generasi muda harus turut bahu membahu membangun bangsa kita ini. Kita harus meniru sifat patriot dari para pemuda yang membangun fondasi dari bangsa kita. Mereka menyampingkan ego mereka demi menyatukan bangsa ini. Mereka muda dan mereka berani untuk berbuat. Itulah yang harus kita tiru sebagai generasi penerus bangsa ini.
                Di zaman sekarang ini, pemuda harus berlomba untuk mempertajam wawasan dan ilmu pengetahuan mereka. Zaman informasi yang telah meruntuhkan zaman industri kini menjadi pemacu semangat untuk selalu melakukan perubahan. Teknologi yang berkembang cepat memaksa kita untuk bersaing untuk menciptakan hal-hal baru dan selalu berinovasi. Tuntutan memiliki wawasan yang tinggi memacu kita untuk bekerja keras dalam belajar dan memuaskan rasa ingin tahu kita.
                Orang yang tidak mau berubah tentu akan mengalami ketertinggalan. Sekali lagi berkacalah pada diri sendiri. Kita bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar yang tidak boleh di pandang sebelah mata oleh bangsa yang lain. Pengembangan di bidang SDM tidak boleh terpisah dengan pengembangan budi pekerti juga. Budi pekerti baik untuk pembentukan jati diri dan menanamkan nilai-nilai luhur dari bangsa kita.
                Mari kita bersama-sama mewujudkan cita-cita ibu pertiwi untuk membawa bangsa kita di atas bangsa-bangsa lain. Itu takkan bisa terwujud tanpa kita memiliki nilai luhur dalam diri kita. Kita bangsa yang berbudaya dan kita bangsa yang kaya, kita tidak boleh memiliki wawasan sempit. Kita harus berjuang dan pantang membuat negara ini tak menutup muka di mata dunia.

Kamis, 26 September 2013

Ask your self



Bertanyalah pada diri anda sendiri, hanya seperti itu anda tidak mempunyai sanggahan atau alasan yang dapat membohongi diri anda sendiri. Kebanyakan orang tidak tahu untuk berkaca terhadap diri sendiri, mereka tidak mampu melihat kesalahan yang mereka perbuat. Tidak mampu menerima kritikan dan hanya ingin menerima pujian, itulah sifat dari kebanyakan masyarakat Indonesia saat ini. Paling parahnya lagi, di negeri kita tercinta ini ada istilah “Senggol = Bacok”. Orang Indonesia yang terkenal akan keramahannya bahkan mampu untuk berbuat seperti itu terhadap saudaranya sendiri di negeri ini.
Sepertinya ramah tamah sudah mulai memudar. Masyarakat yang terkenal akan sifat gotong royong yang tinggi kini ikut terbawa globalisasi yang juga membawa sifat individualisme yang tinggi. Di kota kota besar di negeri ini sudah tidak aneh lagi kita melihat tetangga yang bersebelahan rumah tidak saling mengenal. Yang terpenting bagi mereka adalah diri mereka sendiri. Semuanya itu disetarakan dengan material. Mereka hanya mau berteman dan bersosialisasi dengan orang yang dapat menguntungkan mereka.  Sifat pamrih yang diajarkan ketika kita masih kecil agar dijauhi malah menjadi penyakit yang sudah tidak dapat disembuhkan lagi.
Ask your self! Bukankah semua itu berasal dari diri sendiri. Indonesia memang merindukan perubahan tetapi bukan perubahan ke arah negatif. Kita diajarkan tentang budi pekerti sejak kecil, mari kita bertanya pada diri sendiri apakah itu masih ada membekas ataupun sudah tertiup oleh perubahan zaman.
Jika kita memang merindukan perubahan yang dapat mengubah bangsa kita menjadi bangsa di takuti dunia, bangsa yang besar dan bangsa yang bisa panutan bangsa lain. Kita harus memulai itu dari diri sendiri. Mulai berkaca, introspeksi, bertanya kepada orang lain dan berani untuk melakukan perubahan itu. Pendahulu kita tidak bisa membangun negeri ini tanpa ada kesadaran pada diri mereka sendiri. Mari kita juga ikut membangun negeri ini dengan kesadaran untuk perubahan. Baiklah kesalahan yang telah kita perbuat selama ini menjadi pengalaman yang menjadi guru terbesar dalam hidup kita.
Temukanlah jati diri pemimpin bangsa dalam diri kita. Itu tentu tidak mudah, harus ada kerja keras di dalamnya. Yang terpenting adalah kita mempunyai niat dan kemauan karena jika ada kemauan selalu ada jalan.